Friday, 04 July 2008
 
  Home  
Main Menu
Home
Profile PCI NU ANZ
Konferensi 2007
Go Online!
News
Links
Contact Us
Search
Al Fikr
Kolom Syuriah
Kolom Tanfidziyah
Artikel
NU Links
AusLinks
GlobeLinks
NU ANZ Archive
Archive
Login Form





Lost Password?
No account yet? Register
 
Our Mosque is Burned Down
Written by Webmaster   
Thursday, 22 May 2008

Our Mosque is Burned Down": Constitution, Faith and One Hundred Years National Awakening

 

Since the 2005 re-fatwa of the Council of Indonesian Ulama (MUI)  and the 2008 decision of Bakor Pakem (Badan Koordinasi Pengawasan Kepercayaan) on the heretics of Ahmadiah , this minority Islamic group--- its schools, mosques, offices and its followers-- has become severe targets of violence. The government of Indonesia, represented by Bakor Pakem, is now boiling down a political decision about the future of ahmadiah in Indonesia. This seminar will discuss Ahmadiah case in Indonesia to throw light on the intricate relationship and the future of faith and constitution in Indonesia after one hundred years of national awakening.

Presenter:

1.        Kiai Syarif Usman Yahya (a senior religious cleric in Cirebon West Java ) via Yahoo Messanger
2.        Nadirsyah Hossen (Syuriah of Nahdatul Ulama Australia and New Zealand) will reflect on constitution and faith in Indonesia
3.        Bagus (life story about being Ahmadiah)
4.        Anthony Jones (Reflections on Faith and tolerance  in Indonesia after one hundred years of national awakening)- TBC
5.        Lena Mariana Mukti (Indonesia parliament member, PPP) on senayan and PPP's legal and political perspective
6.        Mr. Musa or Mrs. Helen Musa ( Ahmadiah activists in Australia) on Ahmadiah outside Indonesia) – TBC

 

Venue:

 

Coombs Extension Building, Room 2.004; Friday 23 May 2008, 14.00-16.00 Canberra time

 

Last Updated ( Thursday, 22 May 2008 )
 
Khataman Al-Qur'an di Australia
Written by Nadirsyah Hosen   
Sunday, 26 August 2007
Bismillahirrahmanir rahim
wa bihi nasta'in 'ala umurid dunya wad din

Seorang kawan bertanya dengan mimik yang serius: "saya heran dengan para kiyai...mengapa mereka lebih senang bercanda. Saya sering melihat para kiyai tersenyum, namun saya tidak pernah melihat mereka menangis".

Khazanah keilmuan tradisional Islam yang dikuasainya memang membuat para kiyai memandang hidup ini dengan enteng dan santai. Namun sangat keliru kalau mengatakan para kiyai tidak pernah menangis. Saya ingin membocorkan rahasia ini: kalau antum hendak melihat para kiyai menangis, perhatikanlah saat mereka membaca atau mendengar al-Qur'an.

Meskipun sehari-hari banyak kiyai di pesantren yang senang ber-guyon-ria, namun tiba saatnya mereka membaca atau mendengar kalam ilahi, butir-butir air mata jatuh membasahi pipi mereka. Hati mereka
terguncang, suara mereka mendadak tercekat di kerongkongan, dan dada mereka menjadi sesak menahan gemuruh cinta.
Apa yang dialami para kiyai bukanlah mengada-ngada. Begitulah yang terjadi saat Rasul dan para sahabat membaca al-Qur'an.

Dalam Shahih Al-Bukhari diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud r.a bahwa ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Bacalah Al-Qur'an untukku!" Aku berkata: "Apakah aku membacakannya untukmu sedangkan ia diturunkan kepadamu?" Rasulullah SAW bersabda: "Aku senang mendengarkannya dari orang lain." Aku pun membacakan untuknya surat An-Nisa', hingga sampai pada ayat yang berbunyi: "Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)." (An-Nisa': 41), beliau mengatakan: Hasbuka (cukup). Aku menoleh kepadanya, ternyata kedua mata beliau meneteskan air mata."

Inilah cikal bakal tradisi sema'an al-Qur'an di tanah air. Bahkan Rasul pun senang menyimak al-Qur'an yang dibaca sahabat beliau.
Imam Al-Baihaqi meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah, ia berkata: "Tatkala turun ayat,
"Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis." (An-Najm: 59-60)

Ahlu Suffah (orang yang bermukim di serambi masjid Nabi) menangis hingga tetesan air mata membasahi pipi mereka. Ketika hal itu didengar oleh Rasulullah SAW, beliau tersentuh dan ikut menangis bersama mereka. Melihat hal itu kami pun turut menangis.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak akan masuk api Neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah."

Suatu ketika Abdullah bin Mas'ud membaca surat Al-Muthaffifin, tatkala sampai ayat yang berbunyi: "Yaitu hari ketika manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam." (Al-Mutahffifin: 5) beliau menangis hingga bersimpuh dan tidak mampu melanjutkan ayat berikutnya.

Dalam sebuah pengajian, seperti biasa, acara dibuka dengan pembacaan ayat suci, ketika kemudian pembawa acara mempersilahkan sang kiyai tampil di mimbar memberikan ceramah, pak Kiyai masih duduk terdiam sambil menangis. Ketika panitia menghampiri beliau, pak kiyai hanya berkata lirih, "apa lagi yang harus saya sampaikan, ayat-ayat yang tadi dibacakan sudah cukup untuk kita semua!" Setelah didesak
berulangkali, akhirnya pak kiyai meminta jamaah untuk bersama-sama membaca shalawat Nabi. Setelah itu, barulah sang kiyai berceramah.

Sebaik-baik bahan bacaan adalah al-Qur'anul karim. Sebaik-baik kalam adalah kalam ilahi.

Di atas sudah saya ceritakan bagaimana Rasul meminta Abdullah bin Mas'ud membacakan al-Qur'an untuk Nabi. Namun ada peristiwa yang lebih dahsyat:

Dalam tafsir al-Thabary diceritakan ketika turun surat ke 98 (al-Bayyinah) , Jibril berkata kepada Nabi: Ya Rasul, sesungguhnya Allah memerintahkan engkau untuk membacakan surat ini kepada Ubay bin Ka'ab. Ketika kemudian Nabi menceritakan hal ini dan membacakan surat tsb kepada Ubay bin Ka'ab, sahabat Nabi ini bertanya: "apakah Allah menyebut nama ku?" Nabi menjawab, "na'am (iya)". Maka Ubay bin Ka'ab pun menangis.

Bagi seorang Ubay bin Ka'ab, peristiwa ini begitu mengguncangkan hatinya. Bayangkan saja...Jibril menyampaikan perintah Allah kepada
Rasul untuk membacakan al-Qur'an untuknya. Dan lebih dari itu semua, Ubay menangis karena menyadari bahwa namanya disebut langsung oleh Allah SWT. Adakah kebahagiaan yang melebihi ini semua?

Karena itu sobat-sobat rahimakumullah. ...
Pengurus Cabang istimewa Nahdlatul Ulama di Australia mengajak antum semua bergabung dalam acara rutin khataman al-Qur'an sebulan sekali yang diadakan di Canberra, Brisbane, Perth dan Adelaide. Siapa tahu butiran air mata cinta kita saat membaca dan menyimak al-Qur'an nanti akan menaikkan derajat kita di sisi Allah sehingga Allah pun berkenan menyebut nama kita di depan makhluk-Nya. Amin Ya Mujib al-Sa'ilin

Salam Hormat,

Dr. H. Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI NU Australia-New Zealand
Last Updated ( Sunday, 26 August 2007 )
 
Pengurus Baru PCI NU Australia & New Zealand
Written by Webmaster   
Saturday, 25 August 2007
Susunan Pengurus Cabang Istimewa
Nahdlatul Ulama Australia- New Zealand
Masa Khidmat 2007-2009


  • Mustasyar
  • H. Muhammad Taufiq Prabowo, Lc., DEA
  • H.  Tony Indranada
  • Drs. H. Umar Faruk Assegaff
  • Ust. H. Mumu Mubarak Omo
  • Syuriah
  • Rais
     DR. H. Nadirsyah Hosen, LLM., MA (Hons), Ph.D.
  • Wakil rais
     H. Farid  F Saenong, MA
  • Katib
     Suseno Hadi, PGDipl. Sc, MEM.
  • A'wan
     Akhmad Muzaki, Grad.Dipl SEA, M.Ag, M.Phil     
     Nurul Kawakib, S.Ag., M.Pd.
     Drs. Burhanuddin MAPS
     Andi Syafrani, S.HI
                 
  • Tanfidziah
  • Ketua
     Drs. H.S. Eko Zuhri Ernada, MA
  • Wakil Ketua
     RB. Abdul Gaffar  Karim, SIP, MA
     Honest Dody  Molasy, S.Sos., MSi.
     Drs. Al-Hadi Bustamam, M.Si.     
     Muhammad Adib Abdushomad, M.Ag.  
     Hendragunawan S. Thayf, S.E, M.Si.      
     Yasir Alimi, S.Ag, MA.
  • Sekretaris
     Hj. Sitta Izza Rosdaniah, S.T., MSc.
  • Wakil Sekretaris
     Ulfa Muhayani, S.S
     Ahmad Mughni, S.T.
     Ir. Joni Murti Mulya  Aji, MRur.M.
     Aida Ravaie-O'Sullivan
     Ir. Baso Zulhijaya
     Yusdi Maksum, S.Pd.
  • Bendahara
     Dra. Hj. Safira Machrusah, MAAS (Hons)
  • Wakil Bendahara
     Erwin Nur Rifa’ah, S.Sos., MA.
     Dra. Hj. Ida Farida,. M.Ed. (Hons)
     Achmad Rafiq, S.E 
     Dra. Nella Schiller
     Ir. Baso Zulhijaya
     Muhammad Anshar, S.T.    
Departemen-Departemen
Departemen Kerjasama Antar Kelembagaan


  • Koordinator
     Zahrul Muttaqin, S.Hut, M.M, M.For.Sc
  • Anggota    
     Mega Lugina, S.Hut.

Departemen Komunikasi dan Informasi

  • Koordinator
     Drs. H. Imam Rofi’i, M.Sc.
  • Anggota
     Khalilur Rahman

Departemen Penataan dan Pengembangan Organisasi

  • Koorditaor
     Laila Kholid Alfirdaus, S.IP.
  • Anggota                     
     Tri Kustono Adi, S.Si.

Departemen Dakwah

  • Koordiantor
     Ali Formen Yudha, S.Pd.
  • Anggota
     Hj. Eva Fachrunnisa Amrullah, Lc., MA.

Departemen Litbang dan Pendataan Alumni

  • Koordinator
     Perdinan Rakiso, S.Si
  • Anggota
     Didin Nuruddin Hidayat, S.Pd.

 

 
Polls
Who's Online

© 2008 Nahdlatul Ulama PCI Australia & New Zealand
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Recommended browser, Mozilla Firefox.
Managed by Khal