|
|
|
Our Mosque is Burned Down |
|
Written by Webmaster
|
|
Thursday, 22 May 2008 |
|
Our Mosque is Burned Down": Constitution, Faith and One Hundred Years National Awakening Since the 2005 re-fatwa of the Council of Indonesian Ulama (MUI) and the 2008 decision of Bakor Pakem (Badan Koordinasi Pengawasan Kepercayaan) on the heretics of Ahmadiah , this minority Islamic group--- its schools, mosques, offices and its followers-- has become severe targets of violence. The government of Indonesia, represented by Bakor Pakem, is now boiling down a political decision about the future of ahmadiah in Indonesia. This seminar will discuss Ahmadiah case in Indonesia to throw light on the intricate relationship and the future of faith and constitution in Indonesia after one hundred years of national awakening. Presenter: 1. Kiai Syarif Usman Yahya (a senior religious cleric in Cirebon West Java ) via Yahoo Messanger 2. Nadirsyah Hossen (Syuriah of Nahdatul Ulama Australia and New Zealand) will reflect on constitution and faith in Indonesia 3. Bagus (life story about being Ahmadiah) 4. Anthony Jones (Reflections on Faith and tolerance in Indonesia after one hundred years of national awakening)- TBC 5. Lena Mariana Mukti (Indonesia parliament member, PPP) on senayan and PPP's legal and political perspective 6. Mr. Musa or Mrs. Helen Musa ( Ahmadiah activists in Australia) on Ahmadiah outside Indonesia) – TBC Venue: Coombs Extension Building, Room 2.004; Friday 23 May 2008, 14.00-16.00 Canberra time |
|
Last Updated ( Thursday, 22 May 2008 )
|
|
|
Khataman Al-Qur'an di Australia |
|
Written by Nadirsyah Hosen
|
|
Sunday, 26 August 2007 |
Bismillahirrahmanir rahim wa bihi nasta'in 'ala umurid dunya wad din Seorang kawan bertanya dengan mimik yang serius: "saya heran dengan para kiyai...mengapa mereka lebih senang bercanda. Saya sering melihat para kiyai tersenyum, namun saya tidak pernah melihat mereka menangis". Khazanah keilmuan tradisional Islam yang dikuasainya memang membuat para kiyai memandang hidup ini dengan enteng dan santai. Namun sangat keliru kalau mengatakan para kiyai tidak pernah menangis. Saya ingin membocorkan rahasia ini: kalau antum hendak melihat para kiyai menangis, perhatikanlah saat mereka membaca atau mendengar al-Qur'an. Meskipun sehari-hari banyak kiyai di pesantren yang senang ber-guyon-ria, namun tiba saatnya mereka membaca atau mendengar kalam ilahi, butir-butir air mata jatuh membasahi pipi mereka. Hati mereka terguncang, suara mereka mendadak tercekat di kerongkongan, dan dada mereka menjadi sesak menahan gemuruh cinta. Apa yang dialami para kiyai bukanlah mengada-ngada. Begitulah yang terjadi saat Rasul dan para sahabat membaca al-Qur'an. Dalam Shahih Al-Bukhari diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud r.a bahwa ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Bacalah Al-Qur'an untukku!" Aku berkata: "Apakah aku membacakannya untukmu sedangkan ia diturunkan kepadamu?" Rasulullah SAW bersabda: "Aku senang mendengarkannya dari orang lain." Aku pun membacakan untuknya surat An-Nisa', hingga sampai pada ayat yang berbunyi: "Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)." (An-Nisa': 41), beliau mengatakan: Hasbuka (cukup). Aku menoleh kepadanya, ternyata kedua mata beliau meneteskan air mata." Inilah cikal bakal tradisi sema'an al-Qur'an di tanah air. Bahkan Rasul pun senang menyimak al-Qur'an yang dibaca sahabat beliau. Imam Al-Baihaqi meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah, ia berkata: "Tatkala turun ayat, "Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis." (An-Najm: 59-60) Ahlu Suffah (orang yang bermukim di serambi masjid Nabi) menangis hingga tetesan air mata membasahi pipi mereka. Ketika hal itu didengar oleh Rasulullah SAW, beliau tersentuh dan ikut menangis bersama mereka. Melihat hal itu kami pun turut menangis. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Tidak akan masuk api Neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah." Suatu ketika Abdullah bin Mas'ud membaca surat Al-Muthaffifin, tatkala sampai ayat yang berbunyi: "Yaitu hari ketika manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam." (Al-Mutahffifin: 5) beliau menangis hingga bersimpuh dan tidak mampu melanjutkan ayat berikutnya. Dalam sebuah pengajian, seperti biasa, acara dibuka dengan pembacaan ayat suci, ketika kemudian pembawa acara mempersilahkan sang kiyai tampil di mimbar memberikan ceramah, pak Kiyai masih duduk terdiam sambil menangis. Ketika panitia menghampiri beliau, pak kiyai hanya berkata lirih, "apa lagi yang harus saya sampaikan, ayat-ayat yang tadi dibacakan sudah cukup untuk kita semua!" Setelah didesak berulangkali, akhirnya pak kiyai meminta jamaah untuk bersama-sama membaca shalawat Nabi. Setelah itu, barulah sang kiyai berceramah. Sebaik-baik bahan bacaan adalah al-Qur'anul karim. Sebaik-baik kalam adalah kalam ilahi. Di atas sudah saya ceritakan bagaimana Rasul meminta Abdullah bin Mas'ud membacakan al-Qur'an untuk Nabi. Namun ada peristiwa yang lebih dahsyat: Dalam tafsir al-Thabary diceritakan ketika turun surat ke 98 (al-Bayyinah) , Jibril berkata kepada Nabi: Ya Rasul, sesungguhnya Allah memerintahkan engkau untuk membacakan surat ini kepada Ubay bin Ka'ab. Ketika kemudian Nabi menceritakan hal ini dan membacakan surat tsb kepada Ubay bin Ka'ab, sahabat Nabi ini bertanya: "apakah Allah menyebut nama ku?" Nabi menjawab, "na'am (iya)". Maka Ubay bin Ka'ab pun menangis. Bagi seorang Ubay bin Ka'ab, peristiwa ini begitu mengguncangkan hatinya. Bayangkan saja...Jibril menyampaikan perintah Allah kepada Rasul untuk membacakan al-Qur'an untuknya. Dan lebih dari itu semua, Ubay menangis karena menyadari bahwa namanya disebut langsung oleh Allah SWT. Adakah kebahagiaan yang melebihi ini semua? Karena itu sobat-sobat rahimakumullah. ... Pengurus Cabang istimewa Nahdlatul Ulama di Australia mengajak antum semua bergabung dalam acara rutin khataman al-Qur'an sebulan sekali yang diadakan di Canberra, Brisbane, Perth dan Adelaide. Siapa tahu butiran air mata cinta kita saat membaca dan menyimak al-Qur'an nanti akan menaikkan derajat kita di sisi Allah sehingga Allah pun berkenan menyebut nama kita di depan makhluk-Nya. Amin Ya Mujib al-Sa'ilin Salam Hormat, Dr. H. Nadirsyah Hosen Rais Syuriah PCI NU Australia-New Zealand |
|
Last Updated ( Sunday, 26 August 2007 )
|
|
|
Pengurus Baru PCI NU Australia & New Zealand |
|
Written by Webmaster
|
|
Saturday, 25 August 2007 |
|
Susunan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Australia- New Zealand Masa Khidmat 2007-2009
- H. Muhammad Taufiq Prabowo, Lc., DEA
- H. Tony Indranada
- Drs. H. Umar Faruk Assegaff
- Ust. H. Mumu Mubarak Omo
DR. H. Nadirsyah Hosen, LLM., MA (Hons), Ph.D. H. Farid F Saenong, MA Suseno Hadi, PGDipl. Sc, MEM. Akhmad Muzaki, Grad.Dipl SEA, M.Ag, M.Phil Nurul Kawakib, S.Ag., M.Pd. Drs. Burhanuddin MAPS Andi Syafrani, S.HI
Drs. H.S. Eko Zuhri Ernada, MA RB. Abdul Gaffar Karim, SIP, MA Honest Dody Molasy, S.Sos., MSi. Drs. Al-Hadi Bustamam, M.Si. Muhammad Adib Abdushomad, M.Ag. Hendragunawan S. Thayf, S.E, M.Si. Yasir Alimi, S.Ag, MA. Hj. Sitta Izza Rosdaniah, S.T., MSc. Ulfa Muhayani, S.S Ahmad Mughni, S.T. Ir. Joni Murti Mulya Aji, MRur.M. Aida Ravaie-O'Sullivan Ir. Baso Zulhijaya Yusdi Maksum, S.Pd. Dra. Hj. Safira Machrusah, MAAS (Hons) Erwin Nur Rifa’ah, S.Sos., MA. Dra. Hj. Ida Farida,. M.Ed. (Hons) Achmad Rafiq, S.E Dra. Nella Schiller Ir. Baso Zulhijaya Muhammad Anshar, S.T.
Departemen-Departemen Departemen Kerjasama Antar Kelembagaan
Zahrul Muttaqin, S.Hut, M.M, M.For.Sc Mega Lugina, S.Hut.Departemen Komunikasi dan Informasi
Drs. H. Imam Rofi’i, M.Sc. Khalilur Rahman Departemen Penataan dan Pengembangan Organisasi
Laila Kholid Alfirdaus, S.IP. Tri Kustono Adi, S.Si. Departemen Dakwah
Ali Formen Yudha, S.Pd. Hj. Eva Fachrunnisa Amrullah, Lc., MA. Departemen Litbang dan Pendataan Alumni
Perdinan Rakiso, S.Si Didin Nuruddin Hidayat, S.Pd.
|
|
|
|
|